Thursday, 31 October 2013

Specifies arms aid for the needs of military and police in the country of Indonesia, which is under the illegal rule in Jakarta, is only for colonization for their barbaric treatment of other nations in each country concerned.

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/03/078477687/SBY-Janjikan-Modernisasi-Alutsista-TNI-Tuntas-2014


SBY Promises military weapons systems Modernization Completed in 2014

SBY Janjikan Modernisasi Alutsista TNI Tuntas 2014
Yudhoyono and First Lady Ani Yudhoyono will leave the country for a working visit to three ASEAN countries namely Singapore, Myanmar and Brunei Darussalam at Halim Perdana Kusuma Airport, Jakarta, Monday (22/4). A visit to Myanmar on April 23 to 24 is a return visit of the state visit of President U Thein Sein in Indonesia, at 5-6 May 2011. TEMPO / Subekti

TEMPO.CO, Situbondo - President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) has promised to complete the modernization of the main tools of weapons systems (defense equipment) owned by the military before the end of his term. "God willing, the end of next year we have completed the modernization and development in the defense of our defense equipment," Yudhoyono said at the Combat Training Centre, Karangtekok, Situbondo, Friday, May 3, 2013.

SBY, present in Situbondo to witness the joint exercise 16 745 soldiers of the army, navy, air force in Puslatpur Karangtekok, Situbondo. Yudhoyono was accompanied by his wife, Ani Yudhoyono and Vice President Boediono and his wife.

According to Yudhoyono, the modernization of defense equipment is planned in the next five years in line with the improving economy of Indonesia. National income is higher than the current economic crisis 15 years ago, making Indonesia is able to provide a larger budget for the modernization of defense equipment.

Modernization of defense equipment, he said, does not mean that Indonesia intends to commit aggression to other countries. Therefore, Indonesia is a country of peace. War is a last resort when no other avenues such as diplomacy.

According to the President, modern defense equipment needed to maintain the sovereignty and integrity of the country. Moreover, today's modern era of warfare is more complicated and complex. "The sovereignty and territorial integrity of the Unitary Republic of Indonesia is set in stone," he said.

Commander for the "Task Force Information", Joint Exercises TNI (Indonesian Armed Forces) in 2013, Colonel Bedjo Suprapto, said the joint exercise this year is the largest. "We muster all weapons system," he said.

Navy deployed 36 warships (KRI => Ships of the Republic of Indonesia) and 17 units of BMP-3F amphibious tanks NBO-105. Air Force deployed five aircraft Sukhoi SU 27/30, five Hawk aircraft SPO, five F-16, and 11 C-30 aircraft. While the Army lowered 14 Scorpion Tank unit, 12 units of Mi-17 helicopters, 21 cannon and shoots 12 Bell helicopters.

IKA NINGTYAS
____________________________________________________________________________
The birth of the Indonesian nation is from the dirty politics of illegal government acts on Javanese Islam in Jakarta. Look at the history of the Republic of Indonesia illegally in dirty revolution, resulting in they have violated the provisions of international law which protects the rights of every nation in the world on the relationship between the independent nation:
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/dutch-government-should-be-witness-to.html

Military aggression that has been done by the government of Islamic Java / Indonesia against the Moluccas, in the Maluku archipelago country, has been done by the illegal government in Jakarta / Indonesia to the people of West Papua, and East Timor as well, before the independence of East Timor in spite of the illegal colonial Islamic Java / Indonesia which is based in Jakarta.

Government of Islamic Java / Indonesia always use all sorts of ways in which they do that is, to embrace foreign countries in the dirty business, for the achievement of political objectives in profits in the Indonesian state government political class, which is in power at that time in targeting, as an example done by them before, about examples of things in the perspective of political targeting, on the need for government:
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/02/indonesia-military-and-police-must.html

See more on: Republic of South Maluku (Moluccas)
____________________________________________________________________________

Indonesian:

Memerikan bantuan persenjataan bagi kebutuhan militer dan polisi di negara Indonesia, yang mana dibawah pemerintahan ilegal di Jakarta, adalah hanya untuk kolonisasi untuk perlakuan biadab mereka di tiap negeri bangsa lain yang bersangkutan.


SBY Janjikan Modernisasi Alutsista TNI Tuntas 2014

SBY Janjikan Modernisasi Alutsista TNI Tuntas 2014
SBY dan Ibu Ani Yudhoyono saat akan meninggalkan tanah air untuk melakukan kunjungan kerja ke tiga negara ASEAN yakni Singapura, Myanmar dan Brunei Darussalam di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (22/4). Kunjungan ke Myanmar pada 23-24 April merupakan kunjungan balasan atas kunjungan kenegaraan Presiden U Thein Sein ke Indonesia, pada 5-6 Mei 2011. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Situbondo -- Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjanji akan menuntaskan modernisasi peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI sebelum akhir jabatannya. "Insya Allah akhir tahun depan kita tuntaskan modernisasi dan pembangunan pertahanan alutsista kita," kata SBY di Pusat Latihan Tempur, Karangtekok, Situbondo, Jumat, 3 Mei 2013.

SBY hadir di Situbondo untuk menyaksikan latihan gabungan 16.745 prajurit TNI AD, TNI AL, TNI AU di Puslatpur Karangtekok, Situbondo. SBY didampingi istri, Ani Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta istri.

Menurut SBY, modernisasi alutsista sudah direncanakan dalam kurun lima tahun seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia. Pendapatan nasional yang lebih tinggi dibanding saat krisis ekonomi 15 tahun silam menjadikan Indonesia mampu memberikan anggaran lebih besar untuk modernisasi alutsista.

Modernisasi alutsista, kata dia, bukan berarti Indonesia berniat melakukan agresi ke negara-negara lain. Sebab, Indonesia merupakan negara cinta damai. Perang merupakan jalan terakhir bila tidak ada jalan lain seperti diplomasi.

Menurut Presiden, alutsista modern dibutuhkan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan negara. Apalagi peperangan era modern saat ini lebih rumit dan kompleks. "Kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI adalah harga mati," katanya.

Komandan Satuan Tugas Penerangan Latihan Gabungan TNI 2013, Kolonel Bedjo Suprapto, mengatakan latihan gabungan tahun ini merupakan terbesar. "Kami kerahkan semua alutsista," kata dia.

TNI AL mengerahkan 36 kapal perang (KRI) dan 17 unit tank amfibi BMP-3F NBO-105. TNI AU mengerahkan lima pesawat Sukhoi SU 27/30, lima pesawat Hawk SPO, lima F-16, serta 11 pesawat C-30. Sementara TNI AD menurunkan 14 unit Tank Scorpion, 12 unit helikopter Mi-17, 21 pucuk meriam dan 12 helikopter Bell.

IKA NINGTYAS
__________________________________________________________________________________
Kelahiran bagi negara Indonesia adalah dari hasil politik kotor dari perbuatan pemerintahan ilegal pada Jawa Islam di Jakarta. Lihat pada sejarah ilegal Republik Indonesia dalam revolusi kotor, sehingga mengakibatkan mereka telah melanggar ketetapan hukum internasional yang mana melindungi tiap hak bangsa di dunia pada relasi diantara bangsa yang merdeka:
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/dutch-government-should-be-witness-to.html

Agresi militer yang telah dilakukan oleh pemerintah Jawa Islam/Indonesia terhadap bangsa Maluku, di kepulauan negara Maluku, telah dilakukan oleh pemerintahan ilegal Jakarta/Indonesia terhadap bangsa Papua Barat, dan Timur Timor juga, sebelum kemerdekaan Timur Timor terlepas dari ilegal kolonial Jawa Islam/Indonesia yang mana berkedudukan di Jakarta.

Pemerintah Jawa islam/Indonesia selalu menggunakan segala macam cara yang mana dilakukan oleh mereka, yaitu: untuk merangkul negara-negara asing dalam bisnis kotor, demi tercapainya dari tujuan politik negara Indonesia dalam keuntungan di golongan politik pemerintahan, yang mana berkuasa pada saat itu di penargetannya, seperti contoh yang dilakukan oleh mereka sebelumnya, tentang contoh di hal-hal perspektif pada penargetan politik, di kebutuhan pemerintahannya:
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/02/indonesia-military-and-police-must.html

Lihat lebih pada: Republic of South Maluku (Moluccas)

Tuesday, 22 October 2013

The intent and purpose of the transfer of Maluku capital, namely: "Amboina" on the island of Ambon by illegal government / Indonesia in Jakarta is to divert, or transfer history of the nation and the state of Maluku, into the hands of Islamic Javanese migrants from dirty political system of government bandits Jakarta

http://www.suarapembaruan.com/home/jangan-gegabah-pindah-ibukota-provinsi-maluku/41928#.UjfbfNze9TU.facebook

SP Logo

Do not be hasty Moving the Capital of Maluku Province
Tuesday, September 17, 2013 | 9:16

Ilustrasi Kota Ambon [google]
[AMBON] deputy chairman of the parliament of Maluku province, Mercy Barends said, the initiative of the former Governor of Maluku, namely: Karel Albert Ralahallu said that: to move the capital of the province can not be done carelessly, because should also hear the aspirations of all regents, and mayors.

Such initiatives can not only use the initial data the provincial government (provincial government) as the result of research ITB (Bandung Institute of Technology).


But there must be data as support, which is also accompanied by the level of perception, and the public response, in this case represented by the parliament, or the elements of society, including all of the regents, and mayors throughout the Moluccas.

"Indeed it is the goodwill of the former governor, but must be studied well in order not to cause resistance of all elements of society. We want any decision must be issued fully supported by all elements of society in eleven counties, and cities. This plan should be discussed in detail, because it can not only between Ambon and Central Maluku, for five areas in the southeast where there has also been reacting refused, due to to the city of Ambon alone, they have been very difficult, especially if it is then extended to Seram Island, "said Mercy Barends in Ambon, recently in Ambon.

Mercy admitted, Parliament will discuss the plan with the Special Committee (Committee) study, instead of the special committee to decide on the transfer, because it must require the support of all elements of the people of Maluku.

Council established the Special Committee merely study committee, and not the special committee for determination. On that basis, Mercy claimed, formed a new committee that will be limited to the study of the transfer of the provincial capital.

Desire unilateral former Maluku Governor Karel Albert Ralahalu to move the capital of Maluku province continues opposed by many, not least of Southeast Maluku community components.


The transfer of the capital to the village Makariki, Central Maluku (Malteng) it will be difficult for people, especially in the region of Southeast Maluku (Malra), because it would extend the control range.

"It should span of control should also be considered by the governor, not because of personal and group interests, so as to impose the will to do the transfer of the capital of Maluku. Not because of personal and group interests, thus imposing the will to do the transfer of the capital of Maluku, "said Vice Chairman of KNPI (National Committee of Indonesian Youth) from West Southeast Maluku District (MTB), namely: Jance Laratmasse in Ambon on Tuesday (17/9).

According to him, the governor should think that the transfer of the capital of Maluku would extend the control range, and make it difficult for people in the region of Southeast Maluku Kingdom (overall).


He considered moving the capital of Maluku is laden with political interests, so that the governor's plan must be stopped. Laratmasse also asked of Parliament (Legislative Council) Maluku, to reject the transfer of the capital of Maluku, because it is not the basic needs of society.
_________________________________________________________________________________

Maluku is the history of the world which is known as the spice islands for the whole nation in the world in their own interests, which the island of Ambon, Moluccas, with the city center "Amboina", has become the nation's history Maluku itself from generation to generation in the pre-BC, and not the history of the nation of Indonesia, while Indonesia is following in the foreign political interests dominate, colonization, greed, and so on, which have been, and are involving themselves to violate the norms of humanitarian law.

Displacement central Maluku, namely: "Amboina", located on the island of Ambon is for the political interests of colonial rule (illegal) in Jakarta, Indonesia intends to remove all traces of Moluccan history has ever happened in the "City of Amboina" on the island of Ambon.

As an example:

1). History of spices, to the brutal politics that have been made by foreign politicians who previously linked to the nation Maluku, Maluku islands such that the trophy to this day, without any decisive action from the UN to solve international problems by carefully according to law about abuse, and so forth, on the humanitarian issues, which have been, and are being suffered by the people of Maluku to this day. http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/god-bless-moluccas-as-history-of-human.html


2). Hongitoten history in 1636-1646, where the Dutch had killed as many as 15,000 people Moluccan Christians, and then after that, the Dutch government has put the Islamic transmigration from Java, Sulawesi (Buton, Bugis, Macassar), Parsi and Gujarati (Arab Muslim) , and Arab genetic Java mixture into Banda islands, the island of Seram, Buru, Saparua island, the island of Ambon, Haruku island, and other islands of Maluku. Dutch colonization in the Moluccas, from 509-1950 (450 years).

And after the completion of the "Dutch dominance" in "World War II", "Japan occupied the Moluccas", and the Japanese have been doing "colonization, in Maluku", for "3 years", ie: from "1942 to 1945". Native Dutch soldiers have never fought in Maluku, but the Dutch army of the nation's original Maluku itself, which is a Dutch army (KNIL) and fought along with allies, in this case that the people of Maluku also fought against the Japanese soldiers who joined the Javanese people who enter into the Japanese army, and where the Javanese at that time had become a spy for Japan
Photo: Mr Ron Leech with all the veteran from Australia came to Maluku in 1956 to make a history about War World II, just to show the world that Maluku people united with allies to against the Japanese soldier in War World II, but at that time of Indonesian regime of Jakarta were upset and rejected the plan of Ron Leech to made a movie history in Maluku, the people of Maluku were suffered from the brutality of Indonesian military and police were acts towards the Maluku people at that time, so it is why the history were hidden because of the authority of Ir Soekarno as first President  of Indonesia in Jakarta, and even until now days is hidden about the history of War World II in Maluku.

Second time when Mr Ron Leech came to Maluku to take his chances to make a movie history in Maluku in the same year, the Maluku people was scared to come out to participate, it is because of the military power of Indonesia at that time were put strong warning with stated that: "Any of Maluku people if agree and participate with movie history maker in Maluku about War World II, then it will be Indonesian Military acts to do the death penalties to the Maluku people who would have involved in that action of movie maker of history".

Mr Ron Leech dengan semua veteran dari Australia datang ke Maluku pada tahun 1956 untuk membuat sejarah tentang Perang Dunia II, hanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Maluku orang bersatu dengan sekutu untuk melawan tentara Jepang dalam Perang Dunia II, tapi pada waktu itu Indonesia rezim Jakarta marah dan menolak rencana Ron Leech untuk membuat sejarah film di Maluku, masyarakat Maluku yang menderita kebrutalan militer Indonesia dan polisi bertindak terhadap orang-orang Maluku pada saat itu, sehingga mengapa sejarah disembunyikan karena otoritas Ir Soekarno sebagai Presiden pertama Indonesia di Jakarta, dan bahkan sampai sekarang hari tersembunyi tentang sejarah Perang Dunia II di Maluku.

Kedua kalinya ketika Mr Ron Leech datang ke Maluku untuk mengambil peluang untuk membuat sejarah film di Maluku pada tahun yang sama, orang-orang Maluku takut untuk keluar untuk berpartisipasi, itu karena kekuatan militer Indonesia pada waktu itu ditempatkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa: "Setiap orang Maluku kalau setuju dan berpartisipasi dengan pembuat film sejarah di Maluku tentang Perang Dunia II, maka akan Militer Indonesia bertindak untuk melakukan hukuman mati kepada orang-orang Maluku yang akan terlibat dalam aksi pembuat film sejarah ".


After "Japan ended in Maluku", "Dutch go again" to "dominate Maluku" up to "1950", "after the Proclamation RMS (Republic of South Maluku) on 25 April 1950", the Dutch at that time "to leave the city of Ambon , Maluku ", with" using "ships" KPM KOTA INTAN ", and" bring KNIL (Dutch troops from the nation Maluku) ", which is located on the island of Java at the time, to "carry" to "the Netherlands" by "the Dutch government", but "the will" of "The KNIL (original Dutch troops from the nation Maluku)", that they "want" to "assist military forces Maluku ", in which" being a guerrilla, to fight the army of Indonesia ", in which the military forces of Java in" intervention "to" Moluccas ", and that history is" a political game "between the two countries, namely:" Government Dutch "with a" rule of Islamic Java / Indonesia "in friendship to keep, or dominate the natural resources in Maluku. And the Indonesian military assault led by: Indonesia's first President, namely: "Ir Sukarno," in the incident, that "the Indonesian military assistance" from the "Dutch government" with "heavy weaponry equipment", and while the "United Nations" at the time has returned "silent" about the state of the newly independent state of Maluku on April 25, 1950.

From the results of the political game of Java administration Islam / Indonesian diplomatic relations in the political section, which has been carried out jointly with the Dutch government at the time, and after of the Indonesian military intervention to the Moluccas, and after the success of the government's Islamic Java / Indonesia to dominate in Maluku country, in the input by them, namely: "Islam transmigration" massively from 1952 to the present by the government of the Islamic Java / Indonesia based in Jakarta.

Islamization program is done throughout the islands in the Dutch East Indies http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/09/history-of-world-from-beginning-can-be.html ), and up to continent of Australia in accordance with the purpose of teaching the ideology of the creation of Muhammad recorded in the Koran as the basis for the teachings that have been used to date by the government of Islamic Java / Indonesia in politics, so we need to remind each nation who are victims of results on the problem transmigration related: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/07/awareness-necessary-for-each-nation-and.html

Indonesia as the largest Muslim country in the world, because all the people who came from Islamic countries to Indonesia, thus becoming the majority on the island of Java, in addition, that each nation Islamic background of each country concerned which has become an Indonesian citizen, and or not become citizens, too, they look forward to the time program in Indonesia to transfer from domestic areas, and as well as to the Australian continent. But the relation of Islam in the world of transmigration is under the command of the OIC program, which is the creator of Indonesia itself.

Establishing illegal state like Indonesia backfired for many countries in the world today, even the Netherlands were targeted Islamization virus, so MP Geert Wilder busy with the revolution against the rampant Islamisation of the Netherlands even throughout the western world, and to Australia


3). Thomas Matulessy ( Pattimura ) derived from Saparua island, Maluku, and he is the former of the British army, this happens because of the chaos of the political tensions in Europe in the Napoleonic issue on August 15, 1764 until May 15, 1821, so the alternative is taken by Netherlands at the time it is asked for British assistance to protect the Dutch colonies in the Spice Island ( Maluku ), and therefore the British army personnel have little in Maluku, so the British government recruited indigenous people of Maluku to become the British army. After tensions in Europe tranquility, the British government handed Spice Island ( Maluku ) back to the Netherlands. After the Dutch holding back Spice Island ( Maluku ), the Dutch made the same rules as they have done in years 1636-1646 ( at the time of the war, known as hongitoten ), where the Netherlands impose its will upon the nation to organize all the Maluku spice trade under his control.

"Pattimura" lead all the people of Maluku in "Saparua" to fight the army of the Netherlands, on May 8, 1817 on the beach Waisisir (Maluku), while the Indonesian independence specified in its history was in 1945, although it was had violated provisions in international politics in each of the nation's dependence on relationships which have been established in the "Round Table Conference, The Hague, in 1949". http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/un-should-be-implementing-policies.html

Even the government propaganda of Islamic Java / Indonesia has included Thomas Matulessy (Pattimura) as the label into the Indonesian currency as a "hero of Indonesia" as shown in the figure below:

http://1.bp.blogspot.com/_jL0Lzuo_P-c/SxFfA_lic8I/AAAAAAAAAo0/gKd6EOdSuas/s1600/2000-rp-1000.jpg
When was to Pattimura (Thomas Matulessy) know where the Javanese who called themselves as a nation of Indonesia?

The fact propaganda lies of illegal Indonesian government in Jakarta can be seen on the date, and the incidence among the national leaders of Maluku, which is such an example: "Pattimura" in 1817 with the independence of Indonesia in 1945, so Pattimura included as a "hero of Indonesia". This is a huge difference in 1817 about "Pattimura for Maluku independence from the Netherlands, and compared with the 1945 proclamation of Java / Indonesia from the Dutch. More than that is: the name of Thomas Matulessy ( Pattimura ) manipulated with the label of the name of Islam, namely: to replaced his name as "Ahmad Matulessy", where propaganda of Islamic governance / illegal Jakarta Indonesia aims to demonstrate to the international community in the new generation that in Maluku had first occupied by Muslims, while unnoticed by the criminal government in Jakarta that they do not know if Pattimura have with my family blood line, another example of propaganda, ie as seen from transmigration Islamic propaganda that has occupied the Moluccas from the devious political Islamic government / Indonesia in Jakarta, so that foreign journalists in the new generation coming in the Maluku islands related only to follow explanation of the source of foreign migration, which has been in the Maluku islands. Look at the examples on this video link:

Maluku nation has its own language, but because of the evil colonial Indonesian Islamic rule, which is applied to the violence of the treatment that has been run by the military and police treatment to the people of Maluku which are Christian, and this is happening since the beginning of colonization carried out by regime Jakarta illegal, so slowly into the conversation dominance "Indonesian" as a derivative of "Malay" became dominant in Maluku, Maluku Christian nation where no one spoke in their own language, it will be a challenge for those with treatment of violence and coercion from the military and police to restrict it.Colony of Indonesia Islamic criminal government from 1950 to this day in the Moluccas, which resulted in Maluku became extinct native language for a new generation is currently around 98 %, especially in the nation's indigenous Christian Maluku, while those who are Muslim Maluku always can speak native Maluku, and with it has been used into political gains for the Islamic government in Jakarta, that Maluku had been occupied first by the Muslims, and so on, before the arrival of the white foreigner in spreading Christianity in the Moluccas.

Victorian fort on the island of Ambon, Maluku, which is located in the City of Amboina, Indonesia has been used as a military barracks, namely: "Battalion 733 Pattimura", this is to eliminate the history of the Moluccas, just under colonial history and illegal such as Indonesia.


This fort is a place where Pattimura (Thomas Matulessy) was hanged by the Netherlands on May 15, 1817, therefore, is the nation's leader Pattimura Maluku against colonialism that dominated all the spices for causing suffering to the people of Maluku in his Chebeague.

Historical relics from Japan is a lot on the island of Ambon, where all of the relics of the days of Japanese history as making an underground base is included with the dungeon, and so on, have been surrounded by the Navy base in halong area. While the leaders were dominated by the Javanese in all areas, and even though they (the government of Islamic Java / Indonesia) uses the "original meaning of the word" of Maluku in the related historical relics, such as for example "Lawamena Haulala" in "fortress Victoria ".

Government of the Islamic Java / Indonesia does not pay attention to the life of the nation Maluku properly, but only for the benefit of the island of Java alone, the reason of the fact is:

1). Since from 1950 until this moment, that the facilities and everything was only noticed by those in Jakarta on development in Java, for the sake of progress in Java itself, and a political one for them to continue to dominate the nation's Maluku in a variety of fields, as for example in every area of ​​education facilities, and so on. This is the intent of the political system on the illegal government in Jakarta to always perform to the people of Maluku, West Papua, and like they did against East-Timor before.


2). Natural conditions in Maluku which has a negative impact on the life of each nation's Maluku islands are not addressed by the central government in Jakarta, it is only important that they continually steal the natural resources in Maluku, regardless of ecosystems, habitats, and human life depending on the surrounding nature, and so on. Even the bustle of Islamic rule in the center of Jakarta Indonesia with the corruption that always only heard by people in any print media, TV, and that does not exist in the solution. ( Arrests on the bandits in the Indonesian Parliament in Jakarta is only done at the individual subordinate to the government in Jakarta, and not on the bandits which corrupt while in power in the political party groups in the Islamic Javanese Indonesian government itself, such as for example Susilo Bambang Yudhoyono in his involvement, Susilo Bambang Yudhoyono as the political successor of Soeharto, Soeharto while until he dies too, was not prosecuted because of Susilo Bambang Yudhoyono was appointed to be general, because of the actions of Suharto).

While irrigation of each area in the Maluku islands became increasingly corrupted, resulting from the carelessness of the Islamic government of Indonesia in Jakarta who do not have a sense of responsibility in carrying out tasks on the system state that is run by them, and it is also added to each of the carelessness of the transmigration originating from outside the area Maluku islands, where they are always littering, which is plastic, and so on in the Maluku islands, especially the facilities to be provided by the government of Islamic Java / Indonesia to reform the trash is not there to be noticed, thus causing pollution of air, water, and others.

One example of the impact of irregular irrigation such as incident below:

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151588103363562.1073741878.182929368561&type=1

See also on: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/10/is-state-of-indonesia-is-democratic.html

Displacement for Maluku capital, ie "Amboina" on the island of Ambon, Moluccas, to the island of Seram is intended to divert the nation's position in the history of the Moluccan to the Islamic Javanese transmigration, which grew from the transmigration program which has been carried out by an illegal government Javanese Islam / Indonesia in Jakarta in their dirty game of political systems.

It systematically from illegal government in Jakarta / Indonesia, is aimed to provide an open door in the changing history of Maluku on a new generation of civilization changes at a later date.


Related News:

Netherlands apology for Indonesia 1940's killings, but not to the Maluku nation and to the West Papuan, when at that time the Dutch dirty colonialism were exist in there. Specially the generation to generation of Maluku people who are living in Holland are the victim from the cruelty of the former Dutch governments at that time in 1950 to this day to silent the true history of Maluku people are independently apart from Indonesia illegal state.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/09/netherlands-apology-for-indonesia-1940s.html

Of all the Indonesian president to use military and police as a slave state for their political crimes can be achieved, as there are 2 in the state ideology of Indonesia.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/of-all-indonesian-president-to-use.html

Minister of Justice and Human Rights to Ambon
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/minister-of-justice-and-human-rights-to.html

Since the beginning of Indonesia State begun in August 17, 1945 (Propaganda/fraud history). It is the celebration of humanity fall to sin within the Indonesia's states itself.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/06/so-indonesias-mafia-state.html

Misbakhun will report on SBY (Yudhoyono) to the UN Human Rights Council
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/07/misbakhun-will-report-on-sby-yudhoyono.html

There is no "Democracy", but it is "Evil Politician Remain" inside the Indonesia Government in Jakarta
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/02/there-is-no-democracy-but-it-is-evil.html

Relations on the political-diplomatic advances made ​​by the dirty business of Illegal Indonesian government with their relationships, only to engage world leaders that will blind the world community on matters related to international, which has been neglected in the current case in the state of Maluku, state of West Papua, and others, under the authority of the illegal occupation of government Islamic Java / Indonesia.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/10/relations-on-political-diplomatic.html

For the Indonesian economy, the procedure turned out to be a government run by flawed, because there is no respect for customary land in the Maluku islands-maritime-related, and just for the sake of Jakarta itself, this is not a new thing done by them in Jakarta as it is the center of illegal colonial government.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/09/for-indonesian-economy-procedure-turned.html

See more on: Republic of South Maluku (Moluccas)

_________________________________________________________________________________

Indonesian:

Adapun maksud dan tujuan dari pemindahan ibukota Maluku, yaitu: "Amboina" di pulau Ambon oleh pemerintah ilegal / Indonesia di Jakarta adalah untuk mengalihkan, atau mentransfer sejarah bangsa dan negara Maluku, ke tangan Islam Jawa migran dari sistem politik kotor bandit Pemprov DKI


SP Logo

Jangan Gegabah Pindah Ibukota Provinsi Maluku
Selasa, 17 September 2013 | 9:16

Ilustrasi Kota Ambon [google]
[AMBON] wakil ketua parlemen provinsi Maluku, Mercy Barends mengatakan, inisiatif dari mantan Gubernur Maluku, yaitu: Karel Albert Ralahallu mengatakan bahwa: untuk memindahkan ibukota provinsi tidak bisa dilakukan sembarangan, karena juga harus mendengar aspirasi seluruh bupati, dan walikota.

Inisiatif tersebut tidak hanya dapat menggunakan data awal pemerintah provinsi (Pemprov) sebagai hasil penelitian ITB (Institut Teknologi Bandung).

Tapi harus ada data pendukung, yang juga disertai dengan tingkat persepsi, dan respon masyarakat, dalam hal ini diwakili oleh parlemen, atau elemen masyarakat, termasuk semua bupati, dan walikota di seluruh Maluku.

"Memang itu adalah niat baik dari mantan gubernur, tetapi harus dipelajari dengan baik agar tidak menimbulkan resistensi dari seluruh elemen masyarakat. Kami ingin keputusan harus dikeluarkan sepenuhnya didukung oleh semua elemen masyarakat di sebelas kabupaten, dan kota. Ini rencana ini harus dibahas secara rinci, karena tidak bisa hanya antara Ambon dan Maluku Tengah, selama lima daerah di tenggara di mana ada juga telah bereaksi menolak, karena ke kota Ambon saja, mereka sudah sangat sulit, terutama jika kemudian diperluas ke Pulau Seram, "kata rahmat Barends di Ambon, baru-baru ini di Ambon.


Mercy mengakui, DPR akan membahas rencana tersebut dengan Panitia Khusus (Pansus) studi, bukan pansus untuk memutuskan transfer, karena harus membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat Maluku.

Dewan membentuk Pansus hanya mempelajari komite, dan bukan pansus untuk penentuan. Atas dasar itu, Mercy mengklaim, membentuk komite baru yang akan dibatasi untuk mempelajari pemindahan ibukota provinsi.

Keinginan sepihak mantan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu untuk memindahkan ibukota provinsi Maluku terus ditentang oleh banyak, tidak sedikit dari komponen masyarakat Maluku Tenggara.

Pemindahan ibukota ke desa Makariki, Maluku Tengah (Malteng) akan sulit bagi orang-orang, terutama di wilayah Maluku Tenggara (Malra), karena akan memperpanjang rentang kendali.

"Ini harus rentang kendali juga harus dipertimbangkan oleh gubernur, bukan karena kepentingan pribadi dan kelompok, sehingga untuk memaksakan kehendak untuk melakukan transfer dari ibukota Maluku. Bukan karena kepentingan pribadi dan kelompok, sehingga memaksakan kehendak untuk melakukan transfer dari ibukota Maluku, "kata Wakil Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), yaitu: Jance Laratmasse di Ambon, Selasa (17/9).

Menurut dia, gubernur harus berpikir bahwa transfer ibukota Maluku akan memperpanjang rentang kendali, dan membuat sulit bagi orang-orang di wilayah Maluku Tenggara Raya (keseluruhan).

Ia menilai pemindahan ibukota Maluku sarat dengan kepentingan politik, sehingga rencana gubernur harus dihentikan. Laratmasse juga meminta DPR (Dewan Perwakilan) Maluku, untuk menolak pengalihan ibukota Maluku, karena itu bukan kebutuhan dasar masyarakat.

_________________________________________________________________________________

Maluku merupakan sejarah dunia yang mana dikenal dengan kepulauan rempah-rempah bagi seluruh bangsa di dunia dalam kepentingannya masing-masing, dimana Pulau Ambon, Maluku, dengan kota pusatnya "Amboina", telah menjadi sejarah bagi bangsa Maluku itu sendiri dari generasi ke generasi di sebelum masehi, dan bukan sejarah bagi bangsa Indonesia, sedangkan Indonesia adalah setelah kepentingan politik asing didalam mendominasi, kolonisasi, kerakusan, dan sebagainya, yang mana telah, dan sedang melibatkan mereka sendiri untuk melanggar norma-norma hukum kemanusiaan.

Pemindahan pusat kota Maluku, yaitu: "Amboina" yang terletak di pulau Ambon adalah kepentingan politik bagi pemerintahan kolonial (ilegal) Indonesia di Jakarta dengan bermaksud untuk menghilangkan jejak segala sejarah Maluku yang pernah telah terjadi di "Kota Amboina" di pulau Ambon.

Seperti contohnya:

1). Sejarah rempah-rempah, sampai pada politik kejam yang telah dilakukan oleh para politikus asing yang terkait sebelumnya terhadap bangsa Maluku, sehingga kepulauan Maluku seperti piala bergilir sampai hari ini, tanpa ada tindakan tegas dari PBB untuk mengatasi permasalahan internasional dengan secara seksama menurut hukum yang berlaku tentang pelecehan, dan lain sebagainya, mengenai pada permasalahan kemanusiaan, yang mana telah, dan sedang di derita oleh bangsa Maluku sampai pada hari ini. http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/god-bless-moluccas-as-history-of-human.html
2). Sejarah Hongitoten pada tahun 1636-1646, dimana Belanda telah membunuh orang-orang sebanyak 15,000 Kristen Maluku, dan kemudian setelah itu, Pemerintahan Belanda telah memasukkan transmigrasi Islam dari Jawa, Sulawesi (Buton, bugis, makasar), Parsi & Gujarat (Arab Islam), dan Arab yang campuran Jawa genetik ke pulau Banda, pulau Seram, pulau Buru, pulau Saparua, pulau Ambon, pulau Haruku, dan kepulauan Maluku lainnya. Penjajahan Belanda di Maluku, yaitu dari 509-1950 (450 tahun).

Dan setelah selesainya "dominasi Belanda" pada "Perang Dunia II", "Jepang menduduki Maluku", dan Jepang telah melakukan "kolonisasi, di Maluku", selama "3 tahun", yaitu: dari "tahun 1942 sampai tahun 1945". Tentara asli Belanda tidak pernah berperang di Maluku, melainkan tentara Belanda dari bangsa Maluku asli itu sendiri, yang mana menjadi tentara Belanda (KNIL) dan berperang bersama-sama dengan sekutu, didalam hal ini bahwa rakyat Maluku ikut berperang juga melawan tentara Jepang yang bergabung dengan rakyat Jawa yang masuk menjadi tentara Jepang, dan dimana bangsa Jawa pada saat itu telah menjadi mata-mata untuk Jepang
Photo: Mr Ron Leech with all the veteran from Australia came to Maluku in 1956 to make a history about War World II, just to show the world that Maluku people united with allies to against the Japanese soldier in War World II, but at that time of Indonesian regime of Jakarta were upset and rejected the plan of Ron Leech to made a movie history in Maluku, the people of Maluku were suffered from the brutality of Indonesian military and police were acts towards the Maluku people at that time, so it is why the history were hidden because of the authority of Ir Soekarno as first President  of Indonesia in Jakarta, and even until now days is hidden about the history of War World II in Maluku.

Second time when Mr Ron Leech came to Maluku to take his chances to make a movie history in Maluku in the same year, the Maluku people was scared to come out to participate, it is because of the military power of Indonesia at that time were put strong warning with stated that: "Any of Maluku people if agree and participate with movie history maker in Maluku about War World II, then it will be Indonesian Military acts to do the death penalties to the Maluku people who would have involved in that action of movie maker of history".

Mr Ron Leech dengan semua veteran dari Australia datang ke Maluku pada tahun 1956 untuk membuat sejarah tentang Perang Dunia II, hanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Maluku orang bersatu dengan sekutu untuk melawan tentara Jepang dalam Perang Dunia II, tapi pada waktu itu Indonesia rezim Jakarta marah dan menolak rencana Ron Leech untuk membuat sejarah film di Maluku, masyarakat Maluku yang menderita kebrutalan militer Indonesia dan polisi bertindak terhadap orang-orang Maluku pada saat itu, sehingga mengapa sejarah disembunyikan karena otoritas Ir Soekarno sebagai Presiden pertama Indonesia di Jakarta, dan bahkan sampai sekarang hari tersembunyi tentang sejarah Perang Dunia II di Maluku.

Kedua kalinya ketika Mr Ron Leech datang ke Maluku untuk mengambil peluang untuk membuat sejarah film di Maluku pada tahun yang sama, orang-orang Maluku takut untuk keluar untuk berpartisipasi, itu karena kekuatan militer Indonesia pada waktu itu ditempatkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa: "Setiap orang Maluku kalau setuju dan berpartisipasi dengan pembuat film sejarah di Maluku tentang Perang Dunia II, maka akan Militer Indonesia bertindak untuk melakukan hukuman mati kepada orang-orang Maluku yang akan terlibat dalam aksi pembuat film sejarah ".

Setelah "Jepang berakhir di Maluku", "Belanda masuk lagi" untuk "mendominasi Maluku" sampai pada "tahun 1950", "setelah Proklamsi RMS (Republik Maluku Selatan) pada tanggal 25 April 1950", maka Belanda pada saat itu "meninggalkan Kota Ambon, Maluku", dengan "menggunakan" kapal "KPM KOTA INTAN", dan "membawa tentara Knil (tentara Belanda yang berasal dari bangsa Maluku)", yang mana berada di pulau Jawa saat itu, untuk "dibawa" ke "negeri Belanda" oleh "pemerintahan Belanda", padahal "kemauan" dari "tentara Knil (tentara Belanda asli dari bangsa Maluku)" itu, bahwa mereka "ingin" untuk "membantu pasukan militer Maluku", yang mana "sedang bergerilya, untuk melawan tentara dari Indonesia", yang mana pasukan militer dari Jawa masuk "intervensi" ke "Maluku", dan sejarah itu adalah "permainan politik" diantara kedua negara, yaitu: "Pemerintahan Belanda" dengan "pemerintahan Jawa Islam/Indonesia" dalam persahabatan untuk menjaga, atau mendominasi kekayaan alam di Maluku. Dan penyerangan militer Indonesia yang dipimpin oleh: Presiden Indonesia pertama, yaitu: "Ir Soekarno", dalam kejadian itu, bahwa "militer Indonesia mendapatkan bantuan" dari "pemerintahan Belanda" dengan "peralatan persenjataan berat", dan sedangkan "PBB" pada saat itu telah kembali "diam" tentang keadaan negara Maluku yang baru merdeka pada tanggal 25 April 1950.

Dari hasil pada permainan politik dari pemerintahan Jawa Islam/Indonesia pada hubungan diplomatiknya di bagian politik, yang mana telah dilakukan bersama dengan pemerintahan Belanda pada saat itu, dan setelah dari intervensi militer Indonesia ke Maluku, dan setelah berhasilnya pemerintah Jawa Islam/Indonesia untuk mendominasi di negara Maluku, di masukannya oleh mereka yaitu: "transmigrasi Islam" secara besar-besaran dari tahun 1952 sampai sekarang ini oleh pemerintahan Jawa Islam/Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.

Program Islamisasi ini di lakukan keseluruh kepulauan-kepulauan di bekas jajahan Belanda ( http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/09/history-of-world-from-beginning-can-be.html ), dan sampai kepada Benua Australia sesuai dengan tujuan dari ajaran Ideologi pada penciptaan Muhammad yang tercatat pada Al-Quran sebagai dasar ajaran yang telah dipakai sampai saat ini oleh pemerintahan Jawa Islam/Indonesia didalam politiknya, sehingga perlu untuk kita mengingatkan kepada tiap bangsa yang menjadi korban dari hasil pada permasalahan transmigrasi yang berkaitan: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/07/awareness-necessary-for-each-nation-and.html

Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia, oleh karena semua bangsa yang datang dari negara Islam ke Indonesia, sehingga menjadi mayoritas di pulau Jawa, disamping itu bahwa tiap bangsa yang berlatarbelakang Islam dari tiap negara bersangkutan yang telah menjadi warga negara Indonesia, dan maupun yang belum menjadi warga negara juga, mereka menantikan waktu program untuk di transfer dari Indonesia ke wilayah-wilayah domestik, dan maupun ke benua Australia. Tetapi relasi transmigrasi Islam di dunia adalah dibawah komando program OKI, dimana penciptanya adalah Indonesia itu sendiri.

Mendirikan negara ilegal seperti Indonesia menjadi bumerang bagi banyak negara di dunia saat ini, bahkan Belanda menjadi sasaran virus Islamisasi, sehingga MP Geert Wilder sibuk dengan melawan pada revolusi Islamisasi yang merajalela di negeri Belanda bahkan di seluruh dunia barat dan ke Australia

3). Thomas Matulessy (Pattimura) berasal dari pulau Saparua, Maluku, dan dia adalah bekas dari tentara Inggris, hal ini terjadi oleh karena kekacauan dari ketegangan politik di Eropa pada permasalahan Napoleon pada tanggal 15 Agustus 1764 sampai pada 15 Mei 1821, sehingga alternatif yang diambil oleh Belanda pada saat itu adalah meminta bantuan Inggris untuk melindungi tanah jajahan Belanda di Spice Island (Maluku), dan oleh karena tentara Inggris mempunyai personil yang sedikit di Maluku, sehingga pemerintahan Inggris merekrut orang pribumi Maluku untuk menjadi tentara Inggris. Setelah ketegangan di Eropa redah, pemerintah Inggris menyerahkan Spice Island (Maluku) kembali kepada Belanda. Setelah Belanda memegang kembali Spice Island (Maluku), Belanda membuat peraturan sama seperti yang mereka telah lakukan di tahun 1636-1646 (di zaman perang yang dikenal sebagai hongitoten), dimana Belanda memaksakan kehendaknya kepada bangsa Maluku untuk mengatur semua perdagangan rempah-rempah dibawah kekuasaannya.

"Pattimura" memimpin semua rakyat Maluku di "Saparua" untuk melawan tentara dari Belanda, pada tanggal 8 Mei 1817 di pantai Waisisir (Maluku), sedangkan kemerdekaan Indonesia yang dicantumkan didalam sejarahnya adalah tahun 1945, walaupun hal itu adalah telah melanggar ketetapan pada politik internasional didalam ketergantungan pada hubungan tiap bangsa yang mana telah ditetapkan di "Konfrensi Meja Bundar, Den Haag, pada tahun 1949". http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/un-should-be-implementing-policies.html

Bahkan propaganda dari pemerintah Jawa Islam/Indonesia telah memasukan Thomas Matulessy (Pattimura) sebagai lebel kedalam mata uang Indonesia sebagai "pahlawan Indonesia" seperti terlihat pada gambar dibawah ini:

http://1.bp.blogspot.com/_jL0Lzuo_P-c/SxFfA_lic8I/AAAAAAAAAo0/gKd6EOdSuas/s1600/2000-rp-1000.jpg
Kapankah untuk Pattimura (Thomas Matulessy) mengenal bangsa Jawa yang mana menamakan diri mereka sebagai bangsa Indonesia?

Kenyataan propaganda kebohongan dari pemerintahan ilegal Indonesia di Jakarta dapat dilihat pada tanggal, dan tahun kejadian diantara pemimpin kebangsaan Maluku, yaitu seperti contoh: "Pattimura" di tahun 1817 dengan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, sehingga Pattimura dimasukan sebagai "pahlawan Indonesia". Hal ini perbedaan yang sangat jauh pada tahun 1817 tentang "Pattimura untuk kemerdekaan bangsa Maluku dari Belanda, dan dibandingkan dengan 1945 pada proklamasi Jawa/Indonesia dari Belanda. Lebih dari itu adalah: nama dari Thomas Matulessy (Pattimura) dimanipulasikan dengan lebel dari nama Islam, yaitu: dengan digantikan namanya sebagai "Ahmad Matulessy", dimana propaganda dari pemerintahan Islam/Indonesia ilegal Jakarta ini bertujuan untuk menunjukan kepada komunitas dunia internasional di generasi baru bahwa di Maluku telah ditempati pertama oleh kaum Muslim, disaat tanpa disadari oleh pemerintahan kriminal Jakarta bahwa mereka tidak mengetahui kalau Pattimura mempunyai garis darah keluarga dengan saya, contoh dari propaganda lainnya, yaitu seperti terlihat dari propaganda transmigrasi Islam yang telah menduduki kepulauan Maluku dari hasil politik licik pemerintahan Islam/Indonesia di Jakarta, sehingga wartawan asing di generasi baru yang datang di kepulauan Maluku terkait hanya mengikuti penjelasan dari sumber transmigrasi asing, yang mana telah berada di kepulauan Maluku. Lihat pada contoh pada video link ini:

Bangsa Maluku mempunyai bahasa tersendiri, tetapi oleh karena kolonial jahat dari pemerintahan Islam Indonesia, yang mana diterapkan dengan kekerasan dari perlakuan yang telah dijalankan oleh perlakuan militer dan polisi kepada bangsa Maluku yang mana beragama Kristen, dan hal ini terjadi dari semenjak awal kolonialisasi dijalankan oleh regim ilegal Jakarta, sehingga perlahan dominasi percakapan kedalam "bahasa Indonesia" sebagai bahasa jiplakan dari "bahasa Melayu" menjadi dominan di Maluku, apabila bangsa Maluku Kristen ada yang berbicara dengan bahasanya sendiri, maka akan menjadi tantangan bagi mereka dengan perlakuan kekerasan dan pemaksaan dari TNI dan Polisi untuk membatasi hal tersebut.

Jajahan dari pemerintahan kriminal Islam Indonesia dari tahun 1950 sampai pada hari ini di Maluku, yang mana mengakibatkan bahasa asli Maluku menjadi punah bagi generasi baru saat ini sekitar 98%, terutama pada kalangan bangsa Maluku asli yang beragama Kristen, sedangkan bagi yang beragama Islam Maluku senantiasa dapat berbahasa Maluku asli, dan dengan hal ini telah digunakan kedalam politik keuntungan bagi pemerintahan Islam Jakarta, bahwa Maluku telah ditempati pertama oleh kaum Muslim, dan sebagainya, sebelum kedatangan bangsa asing berkulit putih dalam menyebarkan agama Kristen di Maluku.

Benteng Victoria di pulau Ambon, Maluku, yang mana terletak di Kota Amboina, telah dijadikan asrama militer Indonesia, yaitu: "Batalion 733 Pattimura", hal ini adalah untuk menghilangkan sejarah bangsa Maluku, hanya dibawah sejarah kolonial dan ilegal seperti Indonesia.

Benteng ini adalah tempat dimana Pattimura (Thomas Matulessy) telah digantung oleh Belanda tanggal 15 Mei 1817, oleh karena Pattimura adalah sebagai pemimpin bangsa Maluku yang melawan semua penjajahan yang mendominasi rempah-rempah untuk sengsarakan bangsa Maluku di kepulaua nya.

Peninggalan-peninggalan sejarah dari Jepang adalah banyak di Pulau Ambon, dimana semua dari peninggalan-peninggalan sejarah pada zaman Jepang seperti pembuatan markas bawah tanah disertakan dengan penjara bawah tanah, dan sebagainya, telah dikelilingi dengan basis Angkatan laut di halong area. Sedangkan para pemimpin-pemimpin di dominasi oleh Jawa didalam segala bidang, dan meskipun mereka (pemerintah Jawa Islam/Indonesia) memakai "arti dari kata bahasa asli" dari Maluku di tempat peninggalan-peninggalan sejarah terkait, seperti contohnya "Lawamena Haulala" di "benteng Victoria".

Pemerintah Jawa Islam/Indonesia tidak memperhatikan pada kehidupan bangsa Maluku dengan secara layak, melainkan hanya untuk kepentingan pada pulau Jawa saja, alasan dari kenyataan adalah:

1). Semenjak dari tahun 1950 sampai pada detik ini, bahwa fasilitas dan segalanya itu hanya diperhatikan oleh mereka di Jakarta pada pembangunan di pulau Jawa, demi kemajuan di pulau Jawa itu sendiri, dan menjadi satu politik bagi mereka untuk terus mendominasi bangsa Maluku di berbagai macam bidang, seperti contohnya pada tiap bidang fasilitas pendidikan, dan sebagainya. Hal ini adalah satu kesengajaan dari sistem politik pada pemerintahan ilegal Jakarta untuk selalu melakukan kepada bangsa Maluku, Papua Barat, dan seperti mereka lakukan terhadap Timur-Timor sebelumnya.

2). Keadaan alam di Maluku yang telah menjadi dampak negatif bagi kehidupan bangsa Maluku pada tiap kepulauan adalah tidak diperhatikan oleh pemerintahan pusat Jakarta, melainkan hanya penting bagi mereka untuk mencuri terus-menerus pada kekayaan alam di Maluku, tanpa memperhatikan ekosistem, habitat, manusia yang hidup dan tergantung pada alam disekitarnya, dan sebagainya. Bahkan kesibukan dari pemerintahan Islam Indonesia di pusat Jakarta hanya dengan korupsi yang selalu di dengar oleh rakyatnya di tiap media cetak, TV, dan yang tak ada pada penyelesaiannya. (Penagkapan pada para bandit didalam parlemen Indonesia di Jakarta hanya dilakukan pada perorangan bawahan pada pemerintahan di Jakarta, dan bukan pada para bandit koruptor yang mana sementara pada kekuasaan di partai politik golongan pada pemerintahan Jawa Islam Indonesia itu sendiri, seperti contohnya Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterlibatannya, sebagaimana Susilo Bambang Yudhoyono penerus dari politik Soeharto, sedangkan Soeharto sampai dia mati pun, tidak diadili oleh karena Susilo Bambang Yudhoyono diangkat untuk menjadi Jenderal, oleh karena tindakan Soeharto).

Sedangkan irigasi pada tiap daerah kepulauan di Maluku menjadi semakin rusak, diakibatkan dari kecerobohan dari pemerintahan Islam Indonesia di Jakarta yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas negara pada sistem yang dijalankan oleh mereka, dan hal ini juga ditambahkan dari kecerobohan dari tiap para transmigrasi yang berasal dari luar daerah kepulauan Maluku, dimana mereka selalu membuang sampah sembarangan, yang mana berupa plastik, dan sebagainya di kepulauan Maluku, apalagi fasilitas yang harus disediakan oleh pemerintahan Jawa Islam/Indonesia untuk pembaharuan sampah-sampah tersebut adalah tidak ada untuk diperhatikan, sehingga menyebabkan polusi udara, air, dan lain-lain.

Salah satu contoh dari dampak irigasi yang tidak teratur seperti kejadian dibawah ini:

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151588103363562.1073741878.182929368561&type=1

Lihat juga pada: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/10/is-state-of-indonesia-is-democratic.html

Pemindahan untuk Ibu Kota Maluku, yaitu "Amboina" di Pulau Ambon, Maluku, ke pulau Seram adalah bermaksud untuk mengalihkan kedudukan pada sejarah bangsa Maluku kepada transmigrasi bangsa Jawa Islam, yang mana semakin bertambah dari program transmigrasi yang mana telah dilakukan oleh pemerintah ilegal Jawa Islam/Indonesia di Jakarta dalam permainan sistem politik kotornya.

Hal sistematik dari pemerintahan ilegal Jakarta/Indonesia ini, adalah bertujuan untuk memberikan pintu terbuka dalam perubahan sejarah Maluku pada perubahan sivilisasi generasi baru di kemudian hari.

Relasi Berita:

Maaf Belanda untuk pembunuhan Indonesia tahun 1940-an, tetapi tidak untuk bangsa Maluku dan Papua Barat , ketika pada waktu itu kotor kolonialisme Belanda yang ada di sana. Khususnya generasi ke generasi orang Maluku yang tinggal di Belanda adalah korban dari kekejaman pemerintah Belanda yang berasal pada waktu itu tahun 1950 sampai hari ini untuk diam sejarah yang benar dari orang-orang Maluku yang independen terlepas dari negara ilegal Indonesia.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/09/netherlands-apology-for-indonesia-1940s.html

Dari semua presiden Indonesia untuk menggunakan militer dan polisi sebagai negara budak untuk kejahatan politik mereka dapat dicapai, karena ada 2 di ideologi negara Indonesia.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/of-all-indonesian-president-to-use.html

Menteri Hukum dan HAM ke Ambon

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/minister-of-justice-and-human-rights-to.html

Sejak awal Negara Indonesia dimulai pada 17 Agustus 1945 ( Propaganda / penipuan sejarah ). Ini adalah perayaan kemanusiaan jatuh ke dosa dalam negara tersebut di Indonesia sendiri.

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/06/so-indonesias-mafia-state.html

Misbakhun akan melaporkan SBY ( Yudhoyono ) kepada Dewan HAM PBB 

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/07/misbakhun-will-report-on-sby-yudhoyono.html

Tidak ada " Demokrasi", tetapi "Jahat Politikus Tetap" dalam Pemerintah Indonesia di Jakarta

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/02/there-is-no-democracy-but-it-is-evil.html

Hubungan pada kemajuan politik -diplomatik yang dibuat oleh bisnis kotor pemerintah Ilegal Indonesia dengan hubungan mereka, hanya untuk melibatkan para pemimpin dunia yang akan membutakan masyarakat dunia mengenai hal-hal yang berkaitan dengan internasional, yang telah diabaikan dalam kasus saat ini di negara bagian Maluku, negara Papua Barat, dan lain-lain, di bawah otoritas pendudukan ilegal pemerintah Jawa Islam / Indonesia.

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/10/relations-on-political-diplomatic.html

Untuk perekonomian Indonesia, prosedur ternyata pemerintah dijalankan oleh cacat, karena tidak ada penghargaan terhadap tanah adat di Maluku pulau-maritim terkait, dan hanya untuk kepentingan Jakarta itu sendiri, ini bukan hal yang baru dilakukan oleh mereka di Jakarta karena merupakan pusat pemerintahan kolonial ilegal.

http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/09/for-indonesian-economy-procedure-turned.html

Lihat lagi pada: Republic of South Maluku (Moluccas)