Tuesday, 29 May 2012

Marty Natalegawa has made public deception before the international community

Minister of Foreign Affairs of Indonesia,namely: Marty Natalegawa

http://www.unmultimedia.org/tv/webcast/2012/05/final-remarks-upr-report-of-indonesia-13th-universal-periodic-review.html

Link above is a lie from the Minister of Foreign Affairs of Indonesia, namely: "Marty", at its meeting at the United Nations, in his description of the problems humanity has happened, and is happening in the country of Indonesia.The problem is religion that has occurred in Maluku from 19 January 1999 until 2005. And this has not been resolved in accordance with applicable law, where many of the state officials in Jakarta Indonesia have political involvement by using Islamic ideology to kill the native Maluku, and in particular are killing Christians in Maluku. Indonesia's president is in charge of the first, where Susilo Bambang Yudhoyono has supported Jihad in Ambon, Maluku.
So talk about religious issues that have occurred in Indonesia, is the lie of the statement that has been declared by "Marty" at the United Nations, which he has denied the faith issue, which has occurred in the Moluccas which have prolonged is directed to West Papua, while in West Papua, had never happened religion very severe problems, such as in Maluku.Have a look at this link as a continuation news explanation of all things human, which have occurred in the country of Indonesia to date: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/crimes-of-islamic-government-of-java.html

The problem is in the Moluccas and in Jakarta (Java), so that the United Nations or of a "global humanitarian organization" should come in Jakarta to discuss about human events that have happened and are happening in the Moluccas, or even a humanitarian problem that has happened and is happening in West Papua, in order to stop the "lies" and "evil" of the deed "military and police", the United Nations had to intervene, and get into the Moluccas, or even to enter the territory of West Papua, to see first hand the incident must be resolved , which has been going on for years, until now.We "need justice," and we "invite" every single government in the world, we call upon every organization a global humanitarian, we invite every Christian organizations around the world to look at this issue carefully, we call upon all people in a different perspective of human morality, and will be the same to fix the case with "peace", and the legal hurdles that have been dropped. Thank you and God bless.

West Papua News:

http://www.jia-xiang.biz/read/pemuda-papua-protes-pernyataan-menlu-di-sidang-ham-pbb
Statement of Foreign Minister of Papua, youth protest in the UN Human Rights Meeting

Tuesday, 29 May 2012, 05:22

Jia Xiang - Statement by Minister for Foreign Affairs, Marty Natalegawa before the Assembly for Human Rights (Human Rights) UN in Geneva invite protests from a number of Papuans in Jakarta.

Papua National Solidarity (Breath) Marty responded by holding a solidarity action in front of the Embassy (Embassy) Germany in Jalan Thamrin, Central Jakarta.
Breath spokesman, John Pakage, told Jia Xiang Hometown, Tuesday (05.29.12), Marty has made public deception before the international community. When the last session of the UN Human Rights in Geneva, Switzerland May 23, 2012, Marty argued that in Papua human rights violations still occur. "Marty even suggested that the handling of human rights in Papua has been resolved with a transparent and democratic," said John, holding protest signs posters.

John added, the secretary of state the statement stands in stark contrast with the reality of the matter. For in (1.5.12) has come under fire by security forces on students STIE Port Numbay, Jayapura, Terjoli Weya after peaceful protest annexation Day RI. While on (15/05/12) shooting location of illegal gold mining in Dageuwo, Paniai. The incident killed Melianus Kepege and wounding four other civilians.

As for Responsible Action, Marthen Goo states, when human rights violations continue to occur in Papua, the Papuan ethnic feared to be extinct from the earth. "Until now no less than 800 Papuan people have been killed since the conflict and because of violent military and police forces," said Marthen a disappointed tone. Therefore also highly deplore Marthen Natalegawa statement before the UN forum.

Marthen further said the two shootings were residents of Papua have seized the attention of the international community and the UN human rights session, the 74 countries with a serious question to the Government of Indonesia. In fact, 12 states specifically Papua real problems raised at the forum. Therefore, the action in front of the German Embassy was also intended as a tribute to the 12 countries concerned with the fate of the people of Papua, including the German people.

The plan BREATHING 13 members will symbolically hand over a bouquet of flowers to the Embassy of Germany in order to represent 12 countries. But nevertheless carried a bouquet of flowers. "Right now we do not love flowers so it will be transferred at the meeting with German Embassy officials coming days," said John.

Meanwhile, one of the German Embassy staff, Lantip said they appreciate the appreciation of some of the people of Papua. "We had already let them deliver the message. But to meet embassy officials could not be done because they were not in place, "said Jia Xiang Lantip to Hometown.

While the AKP S. Subagyo, a leading member of the Menteng police security at the site of action stated, the action of Papuan children for 45 minutes it all goes safe and orderly. [W1]

Related News:

Right to life of civilians and security personnel removed without reason
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/06/right-to-life-of-civilians-and-security.html

Information taken from the perception of government as the state of Indonesia in Jakarta, is bringing political issues, human rights and others not be exhausted, where is not views of historical truth, and the applicable law when providing for the sovereignty of the Republic of Indonesia at that time by the United Nations.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/07/information-taken-from-perception-of.html


See more on: Republic of South Maluku (Moluccas)

Indonesian:


Minister of Foreign Affairs of Indonesia,namely: Marty Natalegawa



Link diatas adalah kebohongan dari Menteri Luar Negeri Indonesia, yaitu: "Marty Natalegawa", pada pertemuannya di PBB, dalam penjelasannya tentang permasalahan kemanusiaan yang telah terjadi, dan yang sedang terjadi didalam negara Indonesia.

Permasalahan agama yang telah terjadi adalah di Maluku dari tanggal 19 Januari 1999 sampai pada 2005. Dan hal ini belum diselesaikan menurut hukum yang berlaku, dimana banyak dari pejabat-pejabat negara Indonesia di Jakarta mempunyai keterlibatan politik dengan menggunakan Idiologi Islam untuk membunuh bangsa Maluku asli, dan pada khususnya adalah membunuh Kristen Maluku. Presiden Indonesia adalah penanggung jawab pertama, dimana Susilo Bambang Yudhoyono telah mendukung Jihad di Ambon, Maluku.

Jadi pembicaraan tentang permasalahan agama yang telah terjadi di Indonesia, adalah kebohongan dari pernyataan yang telah dinyatakan oleh "Marty Natalegawa" di PBB, yang mana dia telah menyangkal permasalahan agama, yang mana telah terjadi di Maluku yang telah berkepanjangan adalah diarahkan ke Papua Barat, disaat di Papua Barat, tidak pernah terjadi permasalahan agama yang sangat parah, seperti di Maluku.

Silahkan lihat pada berita link ini sebagai kelanjutan penjelasan tentang segala perkara kemanusiaan, yang mana telah terjadi di negara Indonesia sampai saat ini: http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/05/crimes-of-islamic-government-of-java.html

Masalah ini di Maluku dan tidak di Jakarta (Jawa), sehingga PBB atau dari "organisasi kemanusiaan global" harus datang di Jakarta saja dalam membahas tentang peristiwa kemanusiaan yang telah terjadi dan sedang terjadi di Maluku, atau bahkan permasalahan kemanusiaan yang telah terjadi dan sedang terjadi di Papua Barat, supaya dapat menghentikan "kebohongan" dan "kejahatan" dari perbuatan "militer dan polisi", maka PBB harus turun tangan, dan masuk ke dalam wilayah Maluku, atau bahkan masuk ke wilayah Papua Barat, untuk melihat langsung insiden itu harus diselesaikan, dimana ini telah terjadi selama bertahun-tahun, sampai saat ini.

Kami "butuh keadilan", dan kami "mengajak" setiap pemerintahan tunggal di dunia, kami menyerukan kepada setiap organisasi sebuah kemanusiaan global, kami mengajak setiap organisasi Kristen di seluruh dunia untuk melihat masalah ini dengan cermat, kami menyerukan kepada semua orang dalam perspektif yang berbeda dari manusia dengan moralitas, dan akan sama untuk memperbaiki kasus ini dengan "damai", dan rintangan hukum yang telah dijatuhkan. Terima kasih dan Tuhan memberkati.


Berita Papua Barat:

http://www.jia-xiang.biz/read/pemuda-papua-protes-pernyataan-menlu-di-sidang-ham-pbb

Pemuda Papua Protes Pernyataan Menlu di Sidang HAM PBB

Tuesday, 29 May 2012, 05:22

Pemuda Papua Protes Pernyataan Menlu di Sidang HAM PBB 
Jia Xiang –  Pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa di hadapan Sidang Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa mengundang protes dari sejumlah masyarakat Papua di Jakarta.

Nasional Papua Solidaritas (Napas) menanggapi pernyataan Marty dengan menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.
Juru bicara Napas, John Pakage, mengatakan kepada Jia Xiang Hometown, Selasa (29/5/12), Marty telah melakukan pembohongan publik dihadapan masyarakat Internasional. Saat sidang HAM PBB yang berlangsung di Jenewa Swis 23 Mei 2012, Marty membantah bahwa di Papua masih terjadi pelanggaran HAM. “Marty bahkan menyatakan bahwa penanganan HAM di Papua telah diselesaikan dengan transparan dan demokratis,” terang John sambil menggenggam poster tanda protesnya.

John menambahkan, pernyataan menlu tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi. Sebab pada (1/5/12) telah terjadi penembakan oleh aparat keamanan terhadap mahasiswa STIE Port Numbay, Jayapura, Terjoli Weya setelah melakukan aksi damai memperingati Hari Aneksasi RI. Sementara pada (15/5/12) penembakan terjadi dilokasi penambangan emas ilegal di Dageuwo, Paniai. Insiden tersebut menewaskan Melianus Kepege dan melukai 4 warga sipil lainnya. 

Sedangkan Penanggung Jawab Aksi, Marthen Goo menyatakan, bila pelanggaran HAM terus terjadi di tanah Papua, maka etnis Papua dikhawatirkan akan punah dari muka bumi. “Hingga saat ini tak kurang dari 800 rakyat Papua telah tewas karena konflik dan karena kekerasan aparat TNI dan Polri,” papar Marthen dengan nada kecewa. Oleh sebab itu Marthen juga sangat menyayangkan pernyataan Marty Natalegawa di hadapan forum PBB.

Lebih lanjut Marthen mengatakan, dua kasus penembakan warga papua itu telah menyita perhatian dunia internasional dan pada sidang HAM PBB tersebut, 74 negara dengan serius mempertanyakannya kepada Pemerintah Indonesia. Bahkan 12 negara secara khusus mengangkat permasalah real Papua di forum tersebut. Oleh sebab itu, aksi didepan Kedubes Jerman itu juga dimaksudkan sebagai penghargaan bagi 12 negara yang perduli terhadap nasib rakyat Papua, diantaranya masyarakat Jerman.

Rencananya 13 anggota NAPAS secara simbolis akan menyerahkan karangan bunga kepada pihak Kedubes Jerman guna mewakili 12 negara itu. Namun karangan bunga urung dilakukan. “Saat ini kami tidak jadi kasih bunga karena akan dialihkan pada acara pertemuan dengan pejabat Kedubes Jerman beberapa hari mendatang,” ucap John.

Sementara itu, salah satu Staf Kedubes Jerman, Lantip  menyatakan, mereka menghargai apresiasi dari sebagian rakyat Papua ini. “Kami tadi sudah mempersilakan mereka menyampaikan pesannya. Tapi untuk bertemu pejabat Kedubes tidak bisa dilakukan karena mereka sedang tidak ada di tempat,” ujar Lantip kepada Jia Xiang Hometown.

Sedangkan AKP S. Subagyo, anggota Polsek Menteng yang memimpin pengamanan di lokasi aksi menyatakan, aksi anak-anak Papua selama 45 menit itu seluruhnya berjalan aman dan tertib. [W1]

Relasi Berita:

Hak untuk hidup warga sipil dan personil keamanan harus dihapus tanpa alasan
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2012/06/right-to-life-of-civilians-and-security.html

Informasi yang diambil dari persepsi pemerintah sebagai negara Indonesia di Jakarta, adalah membawa isu-isu politik, hak asasi manusia dan lain-lain tidak habis, di mana tidak dilihat dari kebenaran sejarah, dan hukum yang berlaku ketika menyediakan untuk kedaulatan Republik Indonesia pada waktu itu oleh PBB.
http://souisapaul81.blogspot.com.au/2013/07/information-taken-from-perception-of.html

Lihat lebih pada: Republic of South Maluku (Moluccas)

No comments:

Post a Comment